Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
SANG CHAIRIL ANWAR
Inilah sosok sang penyair. Sosok "Si Binatang Jalang". Seorang guru para anak anak penyairnya. Sang idola serta contoh dan tauladan bagiku. Oh, Chairil Anwar... Syairmu, lebih tajam dari pedang, lebih lembut dari kapas, nan harum melebihi mawar surgawi. Dan disini akan ku berikan, sedikit rangkaian rantai hidup sang sastrawan indonesia


Chairil Anwar adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.


Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

Chairil Anwar dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis. Orang tuanya bercerai, dan ayahnya menikah  lagi. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupati Inderagiri, Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya.Namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun; sedikit cerminan dari kepribadian orang tuanya.

Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.

Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang tuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dimana ia berkenalan dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya. Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia.

Semasa kecil di Medan, Chairil Anwar sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil Anwar. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta 

Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. 

Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta pisah. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika


DALAM JALAN YANG SAMA

Yang Jalan...
Sama dalam...
Dasar bangsat kau hidup itu
Bagaimana tertimpa batu?
Bagaimana teriakan setan?
Hanya ditinggal kereta saja kau menjerit
                                Mulai ini, akan ku angkat jari jari
                                Ku tunjuk apa saja yang hadir dalam cinta
                                Satu, dua, ...
                                Cukup, hanya dua saja
                                Satu, ...
                                Cukup, hanya satu saja
Lalu mulai ku petikkan jari jari
Satu, dua, tiga, dan tak sama
Yang satu ke atas
Dan yang satu padamu
                                Lampu mati...
                                Dengan sekejapnya hitungan tahun
                                Lampu menyala...
                `               Satu, dua, menyalalah...
Sejak kekacauan yang telah tertumpah
Yang terbawa lari manusia hitam itu
Dan dalam sebuah pertemuan
Yang tak teremehkan takdirku olehmu
                                Sajak sajakku dalam cinta
                                Semoga terpaut pada arah malaikat
                                Malaikat yang sanggup terbang ke langit hati
                                Membisikan ku tuk tetap disini
                                Melangkah dan berjalan bersama
                                DALAM JALAN YANG SAMA
Kini telah ku petikkan jari ini
Satu, dua, tiga, dan selalu sama
Yang satu ke atas
Dan yang satu padamu
By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
MENGHARAPMU
Untaian ranting bambu menjalar
Menumbuhkan cerita baru yang membingungkan
Suatu kisah yang kurasa begitu indah
Sejak ku bersamanya
                                Serigala yang sudah memangsaku
        Untuk masuk dalam hidup dan hatinya
        Jeritku kegirangan
        Mendengar kata itu
        Saat terangnya malam purnama
        Kala api merah muda itu menyala
Andai kau disana
Saat ku buka candela kala pagi
Saat kunyalakan lampu kuning tadi
Mengharapmu merinduku lagi
                                Kencangnya debar hati ini
                                Meninggikan tiang nafsuku tuk meraihmu
                                Melemaskan ragaku kala melihat matamu
                                Menggetarkan jiwaku menerima senyummu
        Membuatku melayang dan hilang
        Karena harapku padamu
Ku harap tiada lagi dia
Tiada yang halanginya
Halangi cintaku padamu
Ku harap tiada lagi dia
Tiada yang membutakanmu
Buta akan cintaku padamu
                                Satu yang ku minta…
                                Satu yang ku cari…
                                Satu yang harap…
                                Cintamu…

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
KEBOHONGAN

Masaku...

Hati yang kemarin itu

Ku paksakan untuk diam dan beku

Tak ku gerakkan untukmu

Biarlah kebekuan itu ada

Agar dia tetap diam tak merasa

Kebohongan...

Hadir untukku dan untukmu

Untukmu kasih...

Ku hantarkan hehampaan ku ini

Untukmu dan dirinya bersama

Yang bersama membuat hujanku

Kau tahu ini?

Ini perih rasanya

Dari jauh kau lempar segalanya

Sungguh mawar yang berduri

Pantai di selatan sana

Adalah temanku di utara

Adalah sesuatu yang ke tanya

Sudah apa kau disana

Iya...

Aku sudah menang

Aku sudah bisa bangga sekarang

Aku sudah bisa berbohong pamu

Tapi hati yang mencintaimu tidak

Dia tetap tak rela

Meski tetap dalam dingin kelabu

Matahari pun percayaimu

Embun hati kian yakin dan bersaksi

Jiwaku berjalan beriring bersama jiwamu

Memanglah semestinya hati

Pecaya akan erat genggamanmu

Tak kan cukup lagi untuknya

Melukis sinarnya di hatimu

Hanya satu hati diriku

Milikmu...

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
PERJALANAN

Perjalanan panjang ini

Ku buat sendiri

Tanpa apapun...

Tanpa siapapun...

Dan perjalanan yang ini

Juga ku rusak sendiri

Baik ...

Dari sini kulantunkan

Bertepuk tangan lah

Tapi tanpa berkata

Ku ceritakan pada selembar ini

Dan sekali lagi

Dan perjalanan yang ini

Juga ku rusak sendiri

Awalnya akub berlari

Begitu lelahnya hingga merangkak

Lalu diam dan menangis

Terpuruk dan mati

Dan perjalanan yang ini

Juga ku rusak sendiri



Walau kadang aku tertawa

Riang melihat kalian yang diam

Gembiraku di tengah kebun gersang

Tapi sekali lagi...

Dan perjalanan yang ini

Juga ku rusak sendiri

Wahai yang dirinya manusia

Jangan kau jawab segala pertanyaan

Sampai kapankah ku selesaikan ini?

Hingga kini ku lantunkan ini

Cerita cerita perjalanan

Perjalanan yang ke rusak sendiri

Untuk terakhir kalinya

Ku sebutkan lagi ini

Perjalanan yang ini

Ku rusak sendiri...

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
KU SEBUT ENGKAU AYAH

Syair ini bermula

Ketika seorang manusia hidup

Dan terlanjur tenggelam

Dengan sosok insan lembut disana tadi

Mereka bercerita tentang serigala

Yang meraung memecah sebuah cinta

Namun sebelum ku angkat tangan ini

Tak sedikit pun ku kan percaya mereka

Semakin lama ku berjalan

Semakin banyak pula dirimu menopang

Mengajakku berliku

Dalam pijakan nikmat duniawi

Ku sebut engkau ayah

Atas telaga madu manismu

Ku sebut engkau ayah

Kala kau tegak berdiri di depanku

Ku sebut engkau ayah

Ketika petir dan halilintar menyambar

Kan tetap ku panggil engkau ayah

Walau saat kau angkat pedang suaramu

Ah ... sudah lah...

Tak perlulah sudah ini semua

Karena hanyalah syair belaka

Hanya sekedar bahasa para pemuja

Karena tak ada yang bisa merasa

Keciali ini...

Karya : Aisyah Kartika Sukmawati
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
MIMPI YANG TERTIDUR

Mimpi yang tertidur

Menciptakan rentetan hari yang sunyi

Membuat kerlingan sayu dalam hidup

Menghapuskan tawa riang mereka

Impi yang terlanjur tinggi

Terhempas di jurang yang terdalam

Terlanjur terikat

Kian sulit tuk berkibar

Kini ku hanya bisa merangkak

Melompati bangkai demi bangkai

Karena tuk bermimpi pun ku tak bisa

Karena tuk bangun pun ku tak sanggup

Karena tak ada yang peduli padaku

Terbunuh oleh harapan tajam

Tetap tertidur dalam gelap

Mimpi yang harusnya bangun tuk ku genggam

Walau tekad dan semangat telah bersatu

Tak mampu berikan mentari bagi mimpi ini

Rasa hati yang hambar

Menebalkan mega merah yang tersirat

Bulanku suram tanpa senyuman

Ujung yang terang kian menjauh

Tudungkanlah tanganMU padaku Tuhan

Sebagai penuntun ku berjalan dalam gelap

Tetap rangkul hatiku ini Ya Allah

Untuk penguatku menghadapi pahitnya dunia

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
PUISIKU

Ku mulai...

Menyibak garisan langit putih

Memilah milah apa warna hati

Bergurau bersahabat dengan kekosongan

Jika sejuk, terlihatlah keindahan

Jika geram, tertiuplah hawa jahanam

Ku teruskan ini

Berjalan berkelok hingga titik

Dari muka sampai usai

Tergoda harumnya selimut pena

Ku teruskan lagi ini

Gelorakan aura aura pangeran cinta

Memecahkan selapis laskar perandaian

Terbang....

Seperti angin, ku berlari menembus kota

Ketika terdengar suara seseorang

Tertawa...

Jangan...

Ku tak mau mereka tertawa

Tuntun saja aku

Melewati pertemuan

Apa yang akan terjadi besok?

Jika mencoba lebih dari ini

Ku ingin melompati batasan antara kita

Tetap ingin ku teruskan ini

Hidupku impianku

Cintaku damaiku

Bagai sang penari

Akan selamanya kuteruskan ini

Kisah kisah hebat kan tertata

Bersinar penuh dengan mimpi

Penuh syair, penuh cinta

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
WARNA SEMU

Inilah kertasku …

Pertarungan gejolak jiwa yang mendalam

Melukiskan pilihan luas tak beratap

Memisahkan diri dari diri

Menjatuhkan bintang demi kasih

Demi mereka yang ku cinta dan ku sayang

Meski bara api ku lewati

Semoga kan menguatkan hati ini

Memberikan tiang yang kokoh

Dan menggantikan angan yang terpaksa hilang

Mungkin memeng seperti ini harusnya

Kebebasan yang kan terbebas dariku

Tak bisa menggenggam walau sejenak pun itu

Karena adaku karenanya

Sungguh warna yang semu…

Melukiskan tinta putih pada kertas putih

Atau harus mencari bintang kala siang

Serta memberikan kepuasan pada kerakusan

Entah sampai mana perahuku dapat mengalir

Menggoreskan senyum dalam air mata

Membuka mata pada kehidupan nyata

Lupakan cita cita lalu

Di sinilah….

Lampu merah dari impi impi

Membisukan hitam putih yang berlalu

Membekukan hati yang marah

Melawan bisikan arus angin

Dan menerbangkan langit ke angkasa

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
KEMATIAN

Kini...

Ku berdiri di atas rumput ini

Tidak...tidak...

Bukan aku yang tahu

Disana api berkobar

Kabut kegelapan menantiku di depan

Jika matahari menimpaku yang diam

Harus kemana ku berlari

Entah dari mana ku terdorong

Ya...seluruh tubuh ini

Menaiki tangga yang jauh

Hingga pada akhir panggung ini

Lihat aku...aku disini...

Ayo...lihatlah...

Aku telah berada diatas panggung ini

Ah...mengapa tak satu pun melihatku

Terbersit sedikit di ujung angan

Apa itu...ada kematian?

Yah...kematian

Aku inginkan kematian

Tak mengerti sudah apa guna arti

Tak mengenal pula ku arti suci

Ku pejamkan mata ini

Mencari sebuah putusan

Sudah...sudah...

Cukup pada titik ini saja

Aku ingin turun sekarang juga

Aku inginkan kematian

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
KESEPIAN

Kehilangan...

Manusia guru senyuman

Baru ini terasa mendalami hati

Kala tirai malam terbuka

Sendiri...

Diam tak terkendali

Hanya mengukir yang tertuang

Duduk dan kembali terdiam

Senyum wajahmu yang ku lihat kini

Hanyalah sekedar senyum gambar belaka

Matahari pun turut menangis

Di kala bayang bayang samar menyambar

Kapan kau pulang sayang?

Sepi ini merajai hidupku

Memandang kosong

Pandangan redup jika tanpamu

Ya Tuhan...

Ujian apa ini?

Kenapa harus ku menunggu?

Kenapa harus dia pergi?

Kenapa harus ada sepi terbentang?

Kenapa harus aku dan dia?

Inilah bintang berikutnya

Seperti ini jua 100 bintang setelahnya

Ku harap tak lebih dari itu

Karena kan lemah tuk seterusnya

Duhai sepi...

Kepada langit ku mengaduh

Sungguh...

Inikah rasanya kesepian?

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
Datang dan Pulang Dari PadaMU

Manusia hangat yang kemarin

Akankah dia?

Apakah ia?

Yang Engkau datangkan untukku Tuhan?

Peri kah ia? Malaikatkah dia?

Bulankah itu? Inikah matahari?

Karena ku tersenyum olehnya

Karena ku terlindungi olehnya

Karena ku tersinari olehnya

Karena ku terhangatkan olehnya

Hanya bagai mawar sajakah dia datang?

Sampai dengan kuda jantannya

Membelenggu kala keterpakuan ada

Membawa panah pada matanya

Dengan tangan tangan tangguh berperisai

Pisau pembelah surya malam malamku

Namun Tuhan…

Jangan Kau anugrahkan jua

Jika tuk terbagi denganku

Hanyalah setitik jarum melahkah

Kini sekarang ia disana Tuhan

Tenang terbawa pulang

Walau terlajur tertambat semua rasa

Meski kan jadi kenangan abadi

Tahulah aku siapakah dia

Mengertilah aku untuk apa dia

Kini tersadar bahwa ia…

Datang dan pulang dari padaMU

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
KU TERJAGA

Saat bintang bersinar terang kala itu

Ku tekuk lutut ini pada kursi disana

Hanya satu fikirku ini tertuju

Hanya untuk kau disana

Disinilah aku…

Namun bukan diriku disini

Akulah aku…

Yang selalu bersamamu

Yang ada di sampingmu

Yang melelapkan engkau dalam mimpi indah

Kala alunan jangkrikku beradu

Ku pandang langit hitam tanpa bulan

Yah, memang bulan yang kucari

Bulanlah yang kurindu dan merinduku

Tenanglah engkau…

Karena ku disini terjaga untukmu

Terjaga tuk menyapa dan menyambutmu

Tersenyum tuk menghibur dan tenangkanmu

Menunggu tuk engkau sandari

Membasuhmu dengan sinar tuk penawar luka yang ada

Lekaslah datang kumbang

Cepatlah kembali pada bungamu

Yang telah engkau tinggalkan sedari tadi

Karena bunga rindu hangatmu

Menunggu tuk engkau jaga kembali

Yang biasa kau cintai dan kau lindungi

Inilah sajak pengantarku

Pada satu titik keindahan

Hingga akhirnya engkau datang

Datang tuk kembali padaku

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
KAKAK

Ukiran sejuta kata terlihat

Yang sedang tenang di bawah sinar

Memberiku senyum dan dekapan

Kapan pun ku mau

Kala ku tertawa dalam mimpi

Engkau terjaga tuk menemani

Tiupkan satu sisi dari sisi

Teteskan air suci dari beribu doa

Itulah kakak…

Sang pemberi jalan untukku

Memotong mendung demiku

Mendorong dan menggandengku

Kakak…

Semoga kelam tak pernah hadir

Agar ku selalu mendapat

Menuju mentari bersamamu

Ku mohon Sang penerang malam

Hadirkan sutra untuknya

Hapuskan cela yang tertuang

Dan rajutkan selimut iman untuknya

Tuhan…

Biarkan angin tetap membawaku

Selalu berada dalam peluknya

Berikanku kasih sepanjang masa

Dalam hangatnya tatapan

Terngiang kata yang memeras hati

Menuikan sebuah bingkisan kalbu untukku

“Dik, Kakak menyayangimu…”

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
MALAM

Hijaunya tanah yang tak berwarna

Merah kuning yang kelabu

Terang oleh lampu bulan dan bintang

Duduk bersama berlatarkan matahari

Terhamparlah bayang gelombang

Bukan hambar rasanya

Tidak pula pudar warnanya

Namun segarnya terasa

Kini aku terlempar

Oleh debu pasir hitam

Kini aku terhanyut

Oleh biru warna angin

Lalu aku terbius

Oleh tikaman angan damai

Hari ini

Jika telah lelah matahari

Terbukalah beribu pintu

Pintu hidup berjeruji jernih

Duhai malam

Bapak pengaruh manusia

Pemberi kesempatan hadirnya mimpi

Yang datang terjemput embun pagi

Nan hilang oleh putaran jarum

Sebagai penghujung kisah hari ini

Duhai sahabat bintang bintangku

Sebagian kecilku olehmu

Olehmulah ku teringat

Olehmulah ku terfikir

Olehmulah ku tertegun

Dan olehmulah tergoresnya tinta hitam ini

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
KETIDAKPASTIAN

Kulihat selembar daun

Kupandang langit setelahnya

Ternyata memang jauh berbeda

Meski mereka selalu berdua

Kasihan sang batang nan tangkai

Yang selalu memberi cinta tulus

Berjuang keras mempersiapkan dirinya

Untuk bersandarnya kelak

Saat rembulan menari bersama bintang

Kala awan riang membawa burung

Air langit mengalirkan embun kesunyian

Dentingan waktu pun berteriak

Barulah semua bangun dari kelamnya

Sadar begitu sia-sianya anghin terlewat

Mata terpejam menunduk tersungkur

Adegan itu yang terpampang

Langit makin tinggi daun pun melebar

Namun batang kini meretak merapuh

Yang terlanjur memberikan cahayanya

Dan terlambat menyadari semua

Mereka yang bergembira

Mendayung perahu emas bersama

Menaungi samudra cinta berdua

Pun tak mengerti derasnya air hujan

Matilah dia si batang malang

Termakan cinta kelam nan berduri

Memang inilah si pelaku utama

Cinta yang kejam cinta yang tajam

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
MENGAPA MEREKA

Aku menyesal

Mengapa dulu ku tak melakukannya

Mereka yang dulu melakukan itu

Kini berbahagia di atasku

Dan tertawa melihatku

Aku yang jujur

Aku yang benar benar berlari

Kini berdarah

Dan merasakan kasarnya dunia

Tapi mereka yang berdusta dan berdosa

Justru berlulurkan emas mutiara

Bermahkotakan sanjungan

Dan berdendang di atasku

Melihat mereka yang rusak awalnya

Namun jaya setelah usai

Aku menangis, meratap

Mengapa dulu aku putih

Jika dari awal kulakukan yang dilakukannya

Pasti aku seperti mereka yang berbunga

Dulu, sembari berlari, kulihat mereka

Berkerut kening ini

Melihat mereka sembunyi saat perang

Dan menusuk yang lain dari belakang

Mengapa mereka yang rusak

Yang bisa merasakan manis

Tapi mengapa kami yang jujur

Tak bisa menjadi bintang

Apa benar jika seperti ini?

Haruskah kami berdosa agar bisa seperti mereka?

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
SAJAK MANJAKU

Hias danau setenagh senja

Berikan damai sejuk di hati

Pengantar bejuta cerita dunia

Bagaikan rakit disana

Bersanding si peri bidadari

Melirik manja pada si dia

Yang hitam dan ikal rambutnya

Nan berpangkatkan sang surya hati

Telah lama ini ku nanti

Menikmati lembut lari air

Bersandarkan bahu dan lengannya

Terasakan mundurnya masa

Manusia ini...

Bagaikan selimut kapas diriku

Meninggikan ku di atas ratu

Membuatku terbiasa oleh nyanyian manja

Mengajakku mengarungi dunia nyata berdua

Tergantungnya perak

Berpasangan lingkar jari manis

Satu yang menyatukan

Satu yang menyamakan kita

Cepatnya siput air berlari

Masih terlalu cepat bagiku hari ini

Matahari mengintip berpamitan

Esok tak kan bisa mengakhiri kisah ini

Kisahku dan hatiku...

By: AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
UNTUKMU KASIH

Telah ku singkap dunia lalu

Menemukan harta hati yang suci

Kan ku pendam sedalam samudera yang tak pupus

Menjaga dan melindungi

Ku merasanya dan kau melihatnya

Sungguh anugerah Tuhan yang terindah

Terbenam dalam dekapnya sambutan hati

Menenggelamkanku menjemput kasihmu

Syahdunya nada cinta yang mengalun

Selalu terngiang walau gelap

Memilikimu kasih…

Mencintaimu sayang…

Menjagamu cinta…

Ketahuilah semuanya

Kaulah serigala putih yang serakah

Karena telah kau rebut hati ini

Hingga hanya ada kau dalam hatiku

Dan kau kosongkan fikiranku

Hingga hanya kau di setiap angan ini

Saat ini, kaulah penguasaku

Kerlingan itu, lambaian itu

Berikanku segenap mimpi indah

Suara itu, sentuhan itu

Buatku tersenyum dalam lamunan

Kasih…

Sungguh ku tak mengerti

Apakah jadinya diriku ini

Jika ku tak mencintaimu

Kasihku…

I Love You

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
TAHTA HITAM

Runtuh sudah...

Wisma irama tambatan hati

Terlontar curam

Menusuk menyakiti merobek

Tulus cintaku pada dirinya

Bagai badai yang tertawa

Memang “Benci”

Kataku nyata

Namun mengapa harus “Sayang”

Yang terikrar dalam hati

Dengan tangis ku membalas

Dengan ikhlas kumenerima

Dengan memelas ku menyapa

Meski dalam girang batin dirinya

Tapi bagaimanakah?

Lengang hati diriku kini

Kan gentar nan sukar tuk utuh

Terbias tersita kejam dirimu

Kau...

Kini raja tahta hitamku

Penghancur mata rantai kita berdua

Orang paling tebal hatinya

Geram tangan ini berayun

Terpenuhi pengkhianatan

Terberati perasaan dendam

Yang tercipta dari karenamu

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
AKU DAN DIA

Hari itu bersama mega

Kala itu bersatulah dua detak jantung

Terngiang debarnya yang merapat

Mengusir dingin yang meraba

                                          Kami...

                                          Pasir lautlah yang kan bersaksi

                                          Terikranya janji tuk menepi

                                          Bak melayang menuju sejuta pelangi

Tak perlu jauh mata memandang

Hanya perlu tenang

Terpejam terlinang air mata bahagia

Bertaburan kemurnian warna cinta

                                          Aku dan dia...

                                          Dua malaikat tak bersayap

                                          Terbekas jelas empat buah tapak kaki
           
                                          Saling menghadap dan mendekati

Mancari cari ibu jari

Tuk bertumpu

Tuk bergantung

Tuk memijak

                                            Edar elok deret bahari

                                            Rima wujud hijau rimbun

                                            Batu karang yang kian usang

                                            Lepaskan labuh bahagiaku

Semoga kan terulang

Perjalanan singkat sehari tadi

Reka reka luhur

Menghalau penat jiwa dan raga

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
SANG PEMANAH

Sang Pemanah…

Membidik tanpa ragu

Menuju pusat nan tepat

Tajamnya mata ikut beradu

Genggaman penuh keyakinan

Selalu melekat pada busurnya

Lepaskan anak panah

Yang mampu berlari cepat

Menembus apapun yang ada

Melewati angin yang berhembus

Tampilan tangguh nan perkasa

Taklukkan semua mata

Hawa pemberanipun membara

Teriringi jiwa pengembara

Sang Pemanah…

Tatapan tajam, namun lembutkan jiwa

Bisa melukai, namun sering mengobati

Kejam tampaknya, namun tak kan menyakiti

Sang Pemanah…

Teruslah memanah

Tingkatkan apa yang kau mampu

Dan berikan yang terbaik bagi kami

Sang Pemanah, berjanjilah…

Panahlah apa pun yang layak kau panah

Seranglah semua yang harus diserang

Tunjukkan kesempurnaanmu!

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
DISINI SEKARANG

Disini…

Sekarang…

Semua ada semua terlihat

Abu abu dan putih seraya melekat

                                           Khayal dan angan telah melambung

                                           Impian serta harapan telah digenggam

                                           Restu dan doa telah negiringi

                                           Manis asin tertelan sudah

Panjatlah menara itu wahai kawan

Habiskan tenaga, keluarkan keringat

Sentuhlah puncaknya dengan keyakinan

Lalu terjun dengan mental baja

Dan mendaratlah dengan tepat

Beserta senyum nan bahagia

                                          Kitalah putih abu abu

                                          Warna yauladan bagi warna lain

                                          Mari bawa warna ini dengan semangat

                                          Nanti lepas dengan kebanggaan

Disini…

Sekarang…

Kita satu jiwa bukan?

Ya, karena kita setia

Karena kita bersama

Dan untuk selamanya

                                             Disini…

                                             Sekarang…

                                             Atas Restu Allah

                                             Kita semua, kita selalu

                                             Memulainya dengan Bismillah

                                             Dan mengakhirinya dengan Hamdalah

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
IBU KEDUA

Engkau dikatakan orang

Pahlawan tanpa tanda jasa

Tidak sedikt pula orang yang menghormatimu

Tak gentar engkau melawan kebodohan

Berselempang semangat

Engkau tetap mengajar

Bagi kami engkau adalah ibu kedua

Karena di dalam dirimulah kutemukan

Terbentangnya telaga kasih sayang tiada tersurut

Ketulusan terpancancar bak matahari pagi

Terima kasih atas semua nasihatmu

Terima kasih atas seluruh pengorbananmu

Dan terima kasih atas siraman siraman

Kasih sayang darimu

Ya Allah…

Lindungilah dia…

Jagalah dia…

Sepanjang waktu…

Sepanjang masa…

Karena kami sayang padanya



By; AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
MERAH DAN BIRU

Wahai Merah…

Terangilah jiwaku

Duhai Biru…

Tunjukanlah jalan bagiku

Aku melihatmu dari sini

Aku merasamu dari sini

Aku memanggilmu dari sini

Dan aku kagumimu dari sini

Semoga kau tau

Semoga kau mengerti

Semoga kau dengar

Dan semoga kau sadar

Merah dan Biru…

Akan kalian jadi ungu

Merah dan Biru…

Tetaplah disana untukku

Merah dan Biru…

Jangan kau bersembunyi

Merah dan Biru…

Hiburlah daku

Hadirlah…

Agar dia juga tersenyum

Menarilah…

Agar dia juga tertawa

Tetaplah bersinar…

Agar dia tenang

Merah dan Biru

Bintang tersayangku

Bintang tersukaku

Inilah senyumku untukmu

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika
SALJU PENERANG

Kala gersang dan tandus

Sakit dan perih kurasa

Hati ini terbakar karena panasnya

Hujan lebat yang ku harap

Gerimis pun tak apa

Dan ada sang pelukis pelangi di hati ini

Tak kusangka lebih dari yang ku harap

Dia datang turunkan salju pendingin jiwa

Datang dengan sayap tuk teduhkanku

Dan terangi kelam jiwaku

Celah celah cahaya mulai membelah mendung

Kini angin panas tak kan kembali menghantuiku

Aku pun bermekaran dikala pagi

Dan kaulah kumbangku

Ku ingin menjadi berlianmu wahai salju

Menancapkan mawar di hatimu

Tersenyum manis dalam anganmu

Dan akan tetap bersembunyi di balik pintu hatimu

Duhai Sang Rajawaliku

Tak usah kau ambilkan bintang untukku

Ku tau kau mampu lakukan

Namun bukan itu inginku

Ku ingin kau tetap disini

Lepaskan ikatan penjeratku kemarin

Terima kasih telah kau buka pintu ini

Memberikan ukiran cintamu dalam benak

Terima kasih wahai Rajaku

Atas sentuhan kasih di diriku

By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI
Kumpulan Puisi Karya A. Kartika

CINCIN BUMI
Di satu lorong terang
Tak terteduhkan sinar gelap
Manusia manusia berlomba
Ingin menembus batasan langit
                        Suara sang pohon mati
                        Berteriak menjadi saksi
                        Melihat derasnya arus lintas batas dunia
                        Terheran sendiri sanjungnya manusiawi
Tergoresnya pena hidup para pemuda
Terikrar janji setianya pada bumi
Pemberian harkat suci tuk sang pemimpi
Mengeraskan getaran debar dada
                        Panggilan pertiwiku...
                        Mengguncangkan meruntuhkan menggoyangkan
                        Gerak hati bapak bapak ku
                        Tuk persembahan bagi anak cucu negeri
Bangsa bangsaku...
Tersenyumlah menatap angkasa
Melayang menuju langit impian
Menikmati buah juang nan tangis mulia
                        Coba lihat para tetangga
                        Bukan kita kurang darinya
                        Bukan pula kita menyerah pasrah
                        Namun hanya belum saatnya
Ingat...
Tuhan pasti kan selamatkan
Ciptakan sang pembangun
Bunuh penggerogot tubuh ibu ini
                        Ikrar sumpah jiwaku
                        Kan menahan sakit dada tuk negeriku
                        Mengepalkan tangan memukul kerugian
                        Memantapkan kesetiaan tuk bumi pertiwi ini
By : AISYAH KARTIKA SUKMAWATI (XII-IPA5)